Tari Piring Dua Belas
SEJARAH
Tari Piring Duabelas merupakan tari tradisional yang berkaitan dengan gawi adat masyarakat Lampung yang beradat Saibatin. Tari ini berasal dari Sekala Bekhak, kecamatan Belalau, Lampung Barat. Awalnya orang orang dari Sekala Bekhak ini hijrah ke wilayah Kota Agung (Teluk Semaka) untuk mencari tempat baru dan membentuk sebuah kerajaan yaitu Kerajaan Beniting. Disebut Kerajaan Beniting karena dulu di Sumatera terdapat banyak harimau, sedangkan raja di Kerajaan Beniting ini bisa berubah menjadi harimau.
Agar rakyat tidak keliru maka sang raja memiliki sebuah tanda yang ada di bagian pinggangnya yang biasa disebut babiti, maka raja tersebut disebut raja beniting.Setelah mendapat pengaruh para pedagang, Kerajaan Beniting berubah menjadi Kerajaan Semaka.Tari Piring 12 muncul saat Kerajaan Semaka dan dikembangkan menjadi empat macam tarian.
a.Tari Piring Biasa (Asli), dibawakan oleh bujang gadis (mulei mekhanai)
b.Tari Piring Buha (Buaya), dibawakan oleh mekhanai
c.Tari Piring Maju Ngekkes (Pengantin), dibawakan oleh mulei
d.Tari Piring Duabelas yang ditarikan oleh mulei/mekhanai
Kemudian Kerajaan Semaka bergeser lagi ke daerah pinggir pantai yang bernama Teluk Benawang.Agar lebih mudah untuk membayar upeti dalam proses perdagangan. Lalu kerajaan tersebut diberi nama Kerajaan Benawang. Benawang sendiri memiliki arti uang yang banyak dan bertebaran.Di Kerajaan Benawang inilah terciptanya 12 bandar.
Tari piring adalah tarian sang ratu yang ditarikan dikala menyambut para ulu balak dari medan laga atau medan perang. Sang ratu memberikan suguhan kepada ulu balak berupa tarian sebagai ungakapan rasa gembira. Sang ratu berasal dari Kerajaan Paksi Marga Benawa.
Tari piring diperkirakan mulai ditarikan sebelum agama islam masuk ke Indonesia. Adapun disebut piring 12 sebab, paksi marga benawang mempunyai 12 bandar, dari setiap bandar mempunyai ulubalang - ulubalang dan setiap ulubalang pasti mempunyai pasukan perang.
Adapun nama-nama 12 bandar tersebut adalah :
- Bandar Rajabasa (gunung subuwujo)
- Bandar Sani (gunung subuwujo),
- Bandar Narip (sekarang daerah nuropangko),
- Bandar Talagening dibagi lagi menjadi 4 bandar lop Bandar Talagening, Bandar Maja, Bandar Muara, Bandar Kelunggu (Kota Agung),
- Bandar Baturuga (Terahutimur),
- Bandar Limau (kecamatan limau),
- Bandar Putih,
- Bandar Tulapayah
Jadi mempunyai 4 bandar dalam dan 8 bandar luar.
Tari Piring Duabelas mempunyai dua warna berbeda yang membedakan antara pangeran dan masyarakat. Warna kuning biasanya digunakan di sebelah kanan,warna ini milik pangeran/ratu. Sedangkan warna putih biasannya dikenakan di sebelah kiri, warna ini milik masyarakat Saibatin/pemilik adat. Dua piring yang dibawa oleh sang ratu atau penari juga memiliki makna, yaitu melambangkan bahwa dalam segala sesuatu itu ada dua. Ada kalah ada menang, ada sedih ada senang.
Karena sekarang sudah tidak ada peperangan maka tari piring ditarikan saat acara panayuhan atau resepsi Sang Bujang & Sang Gadis. Tarian ini telah menjadi tradisi di kabupaten Tanggamus atau bisa dibilang tari pergaulan Masyarakat pesisir yang beradat saibatin.
TEMA
Tema tarian ini yaitu menggambarkan tata cara dan kewajiban serta hak yang
harus dipenuhi masyarakat Lampung Pesisir, yaitu Sebambangan/Kawin Jujukh
(yaitu bujang melarikan gadis untuk di persunting). Tarian ini
menggambarkan betapa terampil dan cerianya putri-putri Lampung membawa,
menyusun, dan membenahi piring.
PENARI
Jumlah penari Tari Piring Duabelas tidak terbatas, tetapi harus ganjil minimal
1 atau 3 orang. Dahulu, tarian ini dibawakan oleh 1 orang saja.
KOSTUM / BUSANA
a.Kostum/busana untuk tokoh Tari Piring Duabelas : sigegh, sual cakhang,
sasumping, kain penutup rambut, kain selappai Jung Sakhat, kebaya panjang warna
gelap, gelang burung, pinding, gelang kana, gelang hui, babatukh, penjaja,
selendang kuning, selendang putih, dan tapis.
b.Kostum/busana untuk pengiring Tari Piring Duabelas : sigegh, bunga melati,
subang, babatukh, gelang burung, penjaja, pinding, gelang hui, selendang
kuning, selendang putih, dan tapis.
GERAK DAN MAKNANYA
Beberapa ragam gerak pada Tari Piring Duabelas yaitu lapah, ngetir, mejong
sembah, ngetir hadapan, ketekh kanan-kikhi, sabatang, balik palau, mappam bias,
laga puyuh, salimpat, sakhak hibos.
Keterkaitan antara gerak dan makna adalah sebagai berikut.
- Mejong sembah : menyatakan baru tiba/datang
- Ketekh kanan-kikhi : menyatakan kami akan menari
- Balik palau : menyatakan keindahan dan kerukunan masyarakat Lampung
- Laga puyuh : Ibarat burung ouyuh bertengkar maka diharapkan burung tersebut berhenti sendiri tanpa merusak sesuatu, atau juga menyatakan bahwa di daerah Lampung hidup semboyan Sang Bumi Ruwai Jurai
- Salimpat : artinya masyarakat Saibatin dan Pepadun harus bersatu
- Sakhak hibos : artinya menyatukan kekeluargaan Lampung Saibatin dan Pepadun untuk hidup mufakat
- Mejong sembah : menyatakan buguwai (menari) sudah dilaksanakan.
Sumber lain menyebutkan beberapa penamaan dan / atau gerakan
yang berbeda. Belum diketahui apakah sekedar berbeda penyebutan atau berbeda
gerakannya.
- Sembah :
Setiap sang Putri ada apa saja harus menyembah , sembah tersebut sebagai
tanda penghormatan.
- Ngahilok
(melenggang ) : Sebab ratu dan raja itu tidak pernah mau melihat apdi
keraton dan nubala berjalan jongkok atau menunduk jadi harus berjalan
tegap.
- Ngakkiap (
memanggil )
- Sebatang (masuk
dan keluar)
- Nokkoh :
Dalam keterampiolan dan kewaspadaaan tanpa bagaimanapun kita
kalau tidak waspada dan terampil kita akan menemui kehancuran.
MUSIK PENGIRING
Alat Musik : Rebana, Talo Balak, Kecrek, Gong
Tari Piring Duabelas diiringi oleh musik Penayuhan. Contoh
lagu pengiringnya yaitu sbb.
Takhian sai tiusung : Tarian yang dibawakan
Takhi pikhing khua belas : Tari piring duabelas
Seni budaya lappung : Seni budaya lampung
Dang sappai haga tekas : Jangan sampai ditinggalkan
TEMPAT DAN WAKTU
Tempat pementasan tarian ini dilakukan di balai adat, dapat juga di panggung,
lapangan terbuka, ataupun gedung-gedung apabila sudah mendapat izin berdasarkan
musyawarah adat. Waktu pementasan disesuaikan dengan gawi adat dilaksanakan.
Jika gawi adat dilaksanakan malam hari, maka pelaksanaan pementasan Tari Piring
Duabelas setelah sholat isya. Jika gawi adat dilaksanakan siang hari, maka
pementasannya dapat dilakukan menurut waktu yang ditentukan oleh panitia.
Durasi tarian ini kurang lebih lima belas menit.
FUNGSI
Tarian ini berfungsi sebagai tari hiburan, dipertunjukkan pada acara-acara
pesta adat, seperti : pesta perkawinan, pesta penetapan gelar, pesta
penyambutan tamu agung, dan pesta hari-hari besar nasional.
Sumber :
- http://melestarikanbudayalampung.blogspot.com/
- http://dewymut.blogspot.com/2010/05/tari-piring-duabelas.html
- http://amymahe.blogspot.com/2012/10/tari-piring-12_24.html#axzz34EimVcXG